Minggu, 22 April 2012

Tindak Bahasa Psikolinguistik

Bagaimanakah kemampuan kita untuk memahami ujaran yang dihasilkan oleh orang lain?
1. Pemahaman terhadap bahasa.
    Makna yang terkandung dalam ujaran seseorang.
    a. S (siapa?)
    b. P (tindakan apa?)
    c. O (siapa?)
2. Pemahaman terhadap jenis perbuatan. Nilai ilokusi dan ujaran (pemberitahuan, perintah, larangan, dan pertanyaan).
3. Pemahaman terhadap orang yang berkomunikasi. Tindak bahasa perlokusi. Efek apakah yang harus kita tunjukkan kepada orang yang berujar.

Kru dan Pemain Drama PBSID '09


Lampiran I
SUSUNAN KEPANITIAAN

Pelindung                                  : Wakil Rektor I UMS
                                                   Wakil Dekan I FKIP UMS
                                                   Ketua Program Studi PBSID FKIP UMS
                                                   Dosen Pengampu Pengkajian Drama
Penanggungjawab                      : Ketua Penitia Besar Pementasan Drama Awal Tahun
Sutradara                                  : Syarifudin Ahmad
Asisten Sutradara                      : Adiastuti Tri Utami
Pimpinan Produksi                     : Lutfi Budi Handoyo
Sekretaris                                  : Arifaturrohmaniah
Bendahara                                 : Lina Srirejeki                                    
Seksi-seksi                                :
Penata Artistik               :  Annisa Budi L         (Co)
                                       Novita Damayanti
Setting                           :  Alfian Cahya H         (Co)
                                        Yannu Fahrizal
                                        Riska Immatullah M
Kostum dan Tata Rias     : Ayu Anita M S         (Co)
                                         Indah Hananti R
                                         Maryanti
                                         Yayuk Bintariningsih
Properti                           : Fitri Sri Wardani       (Co)
                                         Deny Pranata
                                         Agung Wiji E
                                         Aan Munsyarif
Pubdekdok                      : Nur Eva Nina Niningsih(Co)
                                          Nuria Azizah R
                                          Siti Maunah
Transportasi                      : Rohmatulloh             (Co)
                                          Adi Purnomo
Konsumsi                         : Farikha Asajati          (Co)
                                          Dwi Nursiyamsih
                                          Waqid Sarbini
Penata Musik                    : Danang Prakoso W   (Co)                              
                                          Unu Muyas Sari


Lampiran II
SUSUNAN PEMAIN DRAMA

Perempuan Tua                                   : Amin Kartika Sari
Penyair                                                : Kristian Nanda Pratama
Laki-laki Pertama                                : Eko Cahyono
Laki-laki Kedua                                  : Waqid Sarbini
Laki-laki Ketiga                                  : Deny Pranata
Perempuan Pertama                            : Novi Indra Saputri
Perempuan Kedua                               : Yesi Widianingsih
Perempuan Ketiga                               : Liana Fita Sari
Agen Polisi                                          : Dika Laksono dan Adi Purnomo
Beberapa Penari                                  : Yessi W, Liana Fita S, Unu Muyas
Beberapa Pasangan Kekasih                : Unu Muyas S & Aan Munsyarif, Agung Wiji & Maryanti
Beberapa Pengemis                              : Novita Damayanti
Beberapa Pelayan Rumah Makan         : Indah Hananti R, Dwi Nursiyamsih

Perbandingan Teks Sastra dan Karakteristik Sastra Angkatan 1945 dengan Angkatan 1966


Angkatan ’45 lahir dalam suasana lingkungan yang sangat memprihatinkan dan serba keras, yaitu lingkungan fasisme Jepang dan dilanjutkan dengan peperangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Karakteristik sastra Angkatan 45
1.      terbuka,
2.      pengaruh unsur sastra asing lebih luas,
3.      corak isi lebih realis,
4.      naturalis, dan
5.      individualisme sastrawan lebih menonjol
Ciri-ciri teks sastra Angkatan 45
AKU
Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
Maret 1943
Dari karya sastra yang berjudul “Aku” karya Chairil Anwar dapat diketahui ciri-ciri teks sastra Angkatan 45 sebagai berikut dibawah ini
1.      berisi sebuah amanat
2.      bahasa menggunakan Bahasa Indonesia
3.      tidak terikat
Tokoh-tokoh dan karya Angkatan 45
1.      Khairil Anwar dengan judul Deru Campur Debu, Kerikil Tajam yang Terampas dan yang Putus, Tiga menguak Takdir, Sani dan Rivai Avin,
2.      Idrus dengan judul Dari Ave Maria ke jalan Lain ke Roma, Keluarga Surono, Dokter Bisma,
3.      Achdiat Kartamiharja dengan judul Atheis, Keretakan dan Ketegangan, Bentrokan dalam Asmara,
4.      Aoh Kartahadimaja dengan judul Zahra, Pecahan Ratna, Poligami, Manusia dan Tanahnya,
5.      Rustandi Kartakusumah dengan judul Prabu dan Putri, Heddi dan Tuti, Rekaman Tujuh Daerah, Lagu Kian Menjauh.

Karakteristik sastra Angkatan 66
Angkatan ’66 ditandai dengan terbitnya majalah sastra Horison. Semangat avant-garde sangat menonjol pada angkatan ini. Banyak karya sastra pada angkatan yang sangat beragam dalam aliran sastra, seperti munculnya karya sastra beraliran surealis, arus kesadaran, arketipe, dan lainnya.
Karakteristik sastra Angkatan ’66 adalah:
      1.      bercorak perjuangan antitirani,
      2.      protes politik, anti kezaliman dan kebatilan,
      3.      bercorak membela keadilan, mencintai nusa, bangsa, negara dan persatuan,
      4.      berontak terhadap ketidakadilan,
      5.      pembelaan terhadap Pancasila,
      6.      berisi protes sosial dan politik.
Hal tersebut diungkapkan dalam karya sastra pada masa Angkatan ’66 antara lain: Pabrik (Putu Wijaya), Ziarah (Iwan Simatupang), serta Tirani dan Benteng (Taufik Ismail). Berikut ini disajikan puisi Taufik Ismail, yang mencerminkan keprihatinannya terhadap situasi negara di masa itu.
Ciri-ciri teks sastra Angkatan 66
Depan Sekretaris Negara
Setelah korban diusung
Tergesa-gesa
Keluar jalanan
Kami semua menyanyi
“ Gugur Bunga”
Perlahan-lahan
Prajurit ini
Membuka baretnya
Air mata tak tertahan
Di puncak gayatri
Menundukkan bendera
Di belakangnya segumpal awan
(Antologi Tirani)
Dari karya sastra yang berjudul “Sekretaris Negara” dapat diketahui ciri-ciri teks sastra Angkatan 66 sebagai berikut dibawah ini.
      1.      sajak bebas
      2.      bahasa Indonesia
      3.      semua isi

Tokoh-tokoh dan karya sastra Angkatan 66
Penamaan angkatan ini dinamakan oleh H.B Jassin diantaranya:
1.      Taufik Ismail dengan judul Tirani, Benteng, Puisi-puisi Sepi, Sajak Ladang Jagung,
2.      Bur Rasuanto dengan judul Mereka yang Berpeluh, Mereka akan Bangkit, Mereka telah Bangkit, Sang Ayah, Manusia Tanah Air, Tuyet,
3.      Mansur Samin dengan judul Perlawanan, Kebinasaan negeri Senja, Tanah Air,
4.      W.S Rendra dengan judul Balada orang-orang Tercinta, Empat Kumpulan Sajak, Ia sudah Bertualang, Blues untuk Bonnie, Sajak-sajak Sepatu Tua, Potret Pembangunan dalam puisi,
5.      Ayip Rosidi dengan judul Pesta, Tahun-tahun Kematian, Surat Cinta Enday Rasidin, Ular dan Kabut, Laut Biru Langit Biru.




       Referensi:

       A. Sayuti, Suminto. 1979. Evalusi Teks Sastra. Jakarta: Mitra Gama Medya.

Novel Menebus Impian Karya Abidah El Khalieqy: Kajian Feminis


A.    Latar Belakang Masalah
Novel sebagai karya sastra pada dasarnya adalah sebuah hasil seni yang menginterpretasikan fenomena-fenomena sosial yang terjadi dalam masyarakat. Salah satu fenomena tersebut adalah gerakan feminism yang mulai berkembang pada abad ke-19.
Faham atau paham feminisme di Indonesia tergolong baru. Gerakan ini muncul dalam berbagai aspek kehidupan, baik itu social, budaya bahkan sastra.  Kemunculan feminisme membuahkan hasil yang positif. Dalam perkembangannya gerakan feminisme juga menemui hambatan. Gerakan feminisme dianggap sebuah pembangkangan terhadap kodrat  perempuan.  Namun dampak adanya gerakan feminisme perempuan mampu berperan penting dalam berbagai area publik.
Dalam bidang pendidikan perempuan mempunyai kesempatan untuk memperoleh pendidikan seperti laki-laki tanpa batasan. Di bidang politik, menjadikan perempuan memperoleh haknya dalam pemilu, serta memperoleh kesempatan yang sama untuk menjadi pemimpin, baik  dalam suatu organisasi, atau bahkan menjadi seorang presiden.  Dalam bidang ekonomi, perempuan memperoleh kebebasan untuk bekerja di luar rumah, bukan hanya mengurusi tugas-tugas rumah tangga saja.
Selanjutnya adalah dalam dunia sastra. Sastrawan-sastrawan perempuan muncul dari adanya perkembangan paham feminis di Indonesia.  Sastawan perempuan banyak mengambil tema tentang dunia perempuan, dengan bahasa penceritaan yang “berani” dalam menyuarakan aspirasi mereka mengenai masalah-masalah perempuandan ditulis dalam perspektif perempuan. Sastrawan perempuan Indonesia misal sebut saja Ayu Utami, Dewi Lestari, Djenar Maesa Ayu, Abidah El Khalieqy dan lain sebagainya.
Novel Menebus Impian mengisahkan kehidupan seorang perempuan yang bernama Nur yang hidup dalam keluarga yang tidak utuh. Sang ayah meninggalkan mereka (Nur dan ibunya Sekar) pada saat Nur masih dalam kandungan. Ibunya atau yang dipanggil emak menjadi single parent. Kemudian, untuk bertahan hidup bersama neneknya Murni , emak menjadi buruh cuci. Nur sering bermimpi tentang seseorang yang selalu menasehatinya agar selalu berusaha keras dalam meraih mimpi-mimpinya. Nur berjuang keras dalam meraih mimpinya. Nur selain kuliah juga bekerja di tempat karaoke dan mengembangkan bisnis bersama Dian. Meski pada saat yang bersamaan emak mengalami kanker kelanjar betah bening yang membuat Nur merasa kebingungan dalam mencari uang untuk membayar biaya operasi. Dian selalu muncul sebagi sosok malaikat yang dapat membantunya. Nur saat bekerja dikaraoke sering mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan berupa pelecehan seksual. 
Berdasarkan uraian tersebut peneliti  memilih novel Menebus Impian  sebagai objek penelitian dengan mengambil judul “Novel Menebus Impian  Karya Abidah El Khalieqy:  Kajian Feminis.”

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti dapat merumuskan beberapa masalah sebagai berikut.
  1. Bagaimanakah bentuk kekerasan diungkap oleh Abidah El Khalieqy dalam novel Menebus Impian?
2.      Bagaimanakah pandangan feminisme terhadap kekerasan yang diungkap oleh Abidah El Khalieqy dalam novel Menebus Impian?

C.    Tujuan Penelitian
Setiap kegiatan yang dilakukan oleh seseorang pasti mempunyai tujuan. Adapun tujuan penelitian ini adalah.
  1. Mendeskripsikan bentuk kekerasan yang diungkap oleh Abidah El Khalieqy dalam novel Menebus Impian.
  2. Mendeskripsikan pandangan feminisme mengenai kekerasan, yang diungkap oleh Abidah El Khalieqy dalam  novel Menebus Impian.

D.    Manfaat Penelitian
1.      Manfaat Teoretis
            a.       Dapat dijadikan sebagai masukan atau referensi dalam penelitian yang sejenis.
            b.      Dapat menambah pengetahuan pembaca mengenai kritik sastra feminis.

2.      Manfaat Praktis
a.       Bagi guru, dapat dijadikan sebagai alternatif bahan pembelajaran sastra dengan sudut pandang feminisme di Sekolah Menengah Atas ataupun perguruan tinggi.
b.     Bagi siswa, untuk meningkatkan daya apresiasi terhadap sebuah novel, khususnya novel Menebus Impian karya Abidah El Khalieqy dari segi feminisme sastra.
c.       Bagi masyarakat, memberikan pemahaman mengenai masalah kekerasan yang ada dalam novel Menebus Impian.