Tampilkan postingan dengan label Drama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Drama. Tampilkan semua postingan

Minggu, 22 April 2012

Naskah Drama Teater

1 Hari 11 Mata di Kepal
13 Pagi
Aduh Ujang
Akal Bulus Scapin
Aljabar
Anak Wayang
Anjing Menyerbu Kuburan
Antigone
Anu
Badai Sepanjang Jalan
Badak-badak
Bah
Balada Sahdi
Barabah
Bayi yang Tertawa
Belum Tengah Malam
Aut
Ayahku Pulang
Ayo
BMBM
Bila Mula
Bor
Bulan Emas di Jendela Kakek
Bunga Rumah Makan
Cabik
Cagula
Cermin
Cipoa
Ciut Pass
Demang Lehman
Dhemit
Di Bawah Bayang Bakau
Dilarang Nyanyi di Kamar Mandi
Dr. Anda
Tanda Tanya
Dukun-dukunan
Dunia Orang-orang Mati
Seolah-olah
Elegi Musim Panas
Festival Topeng
Fragmen Mencinta
Gempa
Gerr
Godlob
Hah
Halo Ada Cinta Disini
Humpimpa
Inspektur Jenderal
Intrik
Jakarta 1988
Jam Dinding yang Berdetak
Jangan Menangis Indonesia
Jeng Menul
Joko Semprul
Pret
Kabayan di Negeri Romeo
Kapal-kapal
Kapok
Karam
Kaus Kaki Bolong
Kereta Kencana
Kiblat Tanah Negeri
Kisah Cinta
Kisah Cinta hari Rabu
Koor
Koran
Kosong-kosong
Laku Tanpa Kata
Lautan Bernyanyi
Lawan Catur
Lorong
Los
Mak Comblang
Malam Terakhir
Mangir
Matahari di Sebuah Jalan Kecil
Mayat-mayat Cinta
Mega Dusta
Mencari Keadilan
Menunggu Dialog
Metamorfosa Kosong
Monumen
Musuh Rakyat
Negeri Langit
Nurani
Nyanyian Angsa
Nyonya-nyonya
Owok-owok
Operasi
Orang Kasar
Orang Ke-5
Orang Malam
Orang-orang Bawah Tanah
Mimpi
Pakaian dan Kepalsuan
Patung dan Ayam
Patung Kekasih
Pelacur
Pelacur dan Presiden
Petruk Jadi Presiden
Roh
RT Nol RW Nol
Sampah Negeri
Sebatas Kita
Sobrat
Suara-suara Mati
Taman 
Tabung
Titik-titk Hitam
Wabah
WC Warung Politik
Zetan




Sinopsis Drama Pelacur


Pada suatu malam di ruang tamu sebuah rumah terlihat seorang wanita bernama Eliza sedang merapikan botol-botol di atas meja dan merias diri. Terdengar sura ketukan pitu dari luar. Eliza berkata jangan keluar pada orang yang ada di kamarnya. Eliza membukakan pintu dan terkejut melihat sosok gelandangan yang pernah Ia jumpai di stasiun kereta. Eliza menayakan pada gelandangan itu tentang bagaiman gelandangan itu sampai dirumahnya. Eliza melarang gelandangan itu masuk ke rumahnya karena sedang ada tamu.
Gelandangan itu mengatakan perihal kedatangannya ke rumah Elisa. Gelandangan itu meminta Eliza untuk menjadi saksi bahwa ia tidak pernah berbuat apa-apa dalam kereta. Gelandangan itu meminta Eliza untuk menyembunyikannya karena gelandangan itu sedang diburu polisi. Eliza tiak mau memenuhi kehendak gelandangan itu. Setelah gelandangan itu memohon dan merengek-rengek di depan Eliza, Elisa akhirnya bersedia untuk menjadi saksi dan menyampaikan kebenaran. Gelandangan itu pun segera keluar dan mencari tempat persembunyian lain.
Eliza menyuruh Firdaus untuk keluar dari kamarnya. Firdaun mengira bahwa yang datang tadi adalah polisi. Firdaus meminta Elisa untuk merapikan temapat tidur. Mereka berdua kemudian mulai bercumbu dan menikmati malam itu. Setelah selesai Eliza membahas apan yang dilakukan Firdaus pada dirinya. Ternyata apa yang dikatakan Eliza selalu dibantah oleh Firdaus karena Ia merasa malu. Firdaus memberikan uang sepuluh ribu sebagai imbalan atas apa yang diberikan Eliza pada dirinya. Akan tetapi Elisa menolaknya karena Eliza merasa itu tidak pantas untuk orang yang telah menjamah seluruh tubuhnya. Perdebatan diantara keduanya semakin panas hingga membuat Firdaus merasa kesal. Firdaus merangkul Eliza dari belakang dan mencekiknya. Eliza memberontak hingga Firdauz melepaskannya. Firdaun menggunakan segala cara untuk  dapat membantah kata-kat Eliza hingga Firdaus mengancam akan memasukkan Eliza ke dalam bui karena Firdaus merupakan anak petinggi polisi. Hal itu pun tidak mempengaru Eliza pada pendiriannya. Firdaus kemudian menuduh Eliza telah diperkosa gelandangan itu namun Eliza membantahnya lagi karena itu tidak mungkin.
Firdaus menceritakan apa yang dikatakan Wardan padanya. Mereka berdua mendekatimu. Tak lama kemudian mereka memaksamu dengan kekerasan. Kau berteriak minta tolong, dan datanglah orang-orang yang hendak menolong. Seorang di antara gelandangan itu menghunus belati, dan yang lain meloloskan diri. Eliza pun mengelaknya dan menceritakan jika tidak benar sama sekali. Dua orang gelandangan itu tenangtenang saja, malah mereka sedikitpun tidak melihat ke arahku. Kemudian masuklah empat orang sepertimu, dan dua orang dari mereka merapatkan badannya kepadaku. Mereka sepertinya sedang mabuk. Mereka berkata bahwa di sana bau busuk dan mereka hendak menghajar dua orang gelandangan itu. Tentu saja orang-orang itu membela diri dengan sekuat tenaga. Kemudian salah seorang pemabuk itu terkena tinju pada matanya, dan langsung ia mencabut pistol dan menembaknya, sedangkan yang satunya melarikan diri.
Firdaus meminta kesaksian Eliza untuk mengatakan bahwa Thomas tidak bersalah karena membunuh gelandangan yang dianggap sebagai sampah. Firdaus berkata jika Thomas adalah keponakannya. Eliza tetap bertahan untuk menyampaikan kebenarannya. Eliza menyadari jika Firdaus ingin mengorak keterangan darinya tetapi Ia menyesal mengapa Firdaus harus menidurinya.
Terdengar ketukan kemudian pukulan pada pintu. Eliza membukakan pintu dan terlihat dua orang polisi datang. Eliza menyuruh Firdaus sembunyi tapi malah Firdaus membukakan pintu. Eliza menolak kedatangan kedua polisi itu meskipuin telah menunjukkan tanda pengenalnya. Firdaus menunjukkan uang yang tadi diberikan pada Eliza dan mengatakan bahwa Eliza membuka pelayanan di rumahnya. Eliza membantah semua tuduhan yuang dikatakan Firdaus. Kedua orang polisi terus memaksa Elisa untuk membaca dan menandatangani pernyataan yang dibawanya. Setelah kesal untuk meyakinkan Eliza Firdaus kemudian menunjukkan pada Elisa foto seorang kolonel yang dikenalinya
Kolonel datang menolong Eliza yang terpojok oleh dua orang polisi dan Firdaus. Kolonel menceritakan tentang Ibu Thomas yang telah membesarkankan Thomas dengan segala kesulitannya. Eliza merasa tersentuh dengan certita yang disampaikan ibu Tita. Eliza pun kemudian bersedia untuk menandatangi pernyataan tersebut. Setelah mendapatkan tanda tangan mereka pun meninggalkan Eliza.
Keesokan harinya gelandangan datang ke rumah Eliza dan bersembunyi dirumahnya. Pada saat yang bersaam kolonel menemui Eliza menyampaikan berita jika Thomas telah bebas dari semua tuduhannya.  Gelandangan mengetahui jika Eliza telah membohonginya. Setelah kolonel pergi gelandangn itu keluar dari persembunyiannya. Kemudian dari luar rumah terdengar sirine polisi yang menandakan jika perburuan atas gelandangan dimulai dengan tuduhan perkosaan. Eliza menyuruh gelandangan bersembunyi dan mengambil pisau yang ditaruh dilaci meja. Gelandangan itu bersembunyi dikamar mandi. Pintu dibuka dan Firdaus masuk. Setelah menayakan tentang gelandangan itu Firdaus menyadari bahwa gelandangan itu ada diruah Eliza. Gelandangan itu pun kemudian berlari keluar dan terlibat dalam penembakan yang dilakukan polisi diluar. Firdaus mengatakan bahwa ia benar-benar ingin memilki Eliza karena Ia telah jatuh hati pada Eliza.




Sabtu, 21 April 2012

Sinopsis Drama Malam Terakhir


Menceritakan tentang kisah pertemuan seorang Nenek tua dengan seorang penyair. Pertemuan itu terjadi di sebuah taman. Di taman itu lah terjadi beberapa peristiwa yang melingkupi pertemuan antara nenek tua dengan penyair tersebut. Tidak hanya itu, dari pertemuan itu menumbuhkan benih-benih cinta di hati penyair terhadap Nenek tua itu. Meskipun begitu Nenek tua tidak pernah menggubris perasaan penyair.
Di taman itu terjadi percakapan antara Nenek tua dengan penyair mengenai bangku-bangku yang ada di taman tersebut. Penyair mempermasalahkannya karena dia merasa perlu untuk menyampaikan apa yang dirasakan oleh bangku-bangku di taman tersebut. Dia mengatakan bahwa dengan adanya Nenek tua di situ membuat suasana taman menjadi dingin seperti kuburan. Bahkan dua pasangan kekasih yang ada di taman segera pergi ketika Nenek tua datang. Inilah yang menyebabkan kejengkelan dalam diri penyair dan dia berusaha mengungkapkannya.
Di mulai dari percakapan ini lah kemudian mengalirlah percakapan mereka selanjutnya. Karena merasa sudah mengenal lama maka penyair pun menanyakan siapa nama Nenek itu karena selama percakapan mereka tidak pernah mengenalkan namanya satu sama lain. Nenek menyebutkan namanya adalah Gendis. Kemudian mengalirlah cerita dari mulut si Nenek tentang masa lalunya. Dia menceritakan bahwa umurnya adalah 99 tahun. Dulunya (80 tahun yang lalu, jadi berumur 19 tahun) dia adalah seorang gadis cantik yang ditaksir seorang Jenderal bernama Sarjono. Dan dia juga menceritakan kepada sang penyair bahwa setiap laki-laki yang menyukainya pasti akan mati.
Namun, karena itulah penyair mulai menaruh rasa suka pada Nenek tua. Dan dia mencoba untuk mengungkapkannya. Tetapi oleh Nenek tua di larang dan mencoba mengingatkannya kembali bahwa setiap laki-laki yang menyukainya pasti akan mati. Selain itu, Nenek tua juga memperingatkan atau lebih tepatnya menasehati agar dia jangan terlalu banyak minum karena dia masih muda.
Di tengah percakapan antara keduanya kemudian datanglah sepasang kekasih yang lain lagi. Di taman itu mereka bertengkar hanya karena si laki-laki tiba-tiba teringat akan ayam-ayamnya yang ada di rumah. Tentu saja itu membuat si perempuan marah dan memutuskan hubungannya dengan dengan sang kekasih. Ini merupakan kisah-kisah di malam itu yang terjadi di sekeliling Nenek tua dan penyair. Dengan kedatangan sepasang kekasih tersebut kembali memunculkan kekesalan penyair terhadap Nenek tua. Lagi  dan lagi dengan kehadiran Nenek tua di taman itu membuat suasana menjadi sepi, tetapi justru berbeda pendapat dari Nenek tua dia mengatakan bahwa wajah-wajah pasangan-pasangan kekasih yang berada di taman itu pucat seperti mayat. Namun, penyair tidak setuju akan pendapat itu, justru Nenek tua itulah yang terlihat seperti mayat.
Sementara itu setelah kepergian sepasang kekasih itu terjadi sedikit keributan di taman itu, yaitu antara tiga orang laki-laki dan tiga orang perempuan. Keributan disebabkan karena mereka iri terhadap gendis. Terutama adalah tiga orang perempuan, mereka begitu iri dengan keberadaan Gendis. Tentu saja mereka iri karena meskipun sudah tua Gendis masih saja menarik perhatian para lelaki. Dan ketiga lelaki itu pun mengamininya. Mereka beradu argumen mengenai Gendis. Apakah mereka masih mempunyai kesempatan untuk mendapatkan Gendis. Namun pada intinya mereka tetap iri akan keberadaan Gendis.
Setelah kejadian itu mereka kembali pada percakapan-percakapan ringan. Nenek itu kembali menceritakan dirinya hingga membuat penyair semakin menyukai Nenek tua itu. Kemudian penyair mulai tidak bisa menahan perasaannya terhadap Nenek tua, diia kemudian mengajaknya berdansa. Namun hanya sebentar saja mereka melakukannya, Nenek tua kembali sadar dan mengingatkan penyair bahwa setiap laki-laki yang menyukainya pasti akan meninggal dan dia mengatakan bahwa di mukanya sudah tercoreng tanda kematian itu. Penyair tetap saja ingin mengatakan isi hatinya kepada Nenek tua. Karena dia merasa ini adalah kesempatan terakhirnya untuk mengatakan perasaannya kepada Nenek tua. Dia tahu itu karena pada saat itu dia sedang mengalami sakit yang luar biasa akibat minumnya yang terlalu banyak dan dia tahu sakit itulah yang akan mengantarkannya kepada kematian. Dan benar saja setelah dia mengungkapkan isi hatinya kepada sang Nenek dengan terbata-bata dia menghembuskan nafas terakhirnya di taman itu dan pada malam itu. Tentu saja sang Nenek tidak terkejut karena dia sudah tahu itu. Setelah mayat penyair itu disingkirkan oleh para polisi dari taman itu suasana taman kembali tenang seperti saat dia pertama kali ada di taman itu sebelum pertemuannya dengan sang penyair. Dan malam itu seperti tidak terjadi apa-apa di taman itu.